Ramai Penonton, Film Indonesia Hadapi Masalah Kekurangan Kru.

Film Indonesia Tengah Menghadapi Masalah Kekurangan Kru Dalam Produksi Film

Film-film Indonesia semakin menarik antusias dari penontonnya. Pada awal tahun ini saja, setidaknya sudah ada sekitar lima film dari Indonesia yang sudah mencapai 1 juta penonton.

Namun untuk menggenjot produksi, pelaku industri perfilman tengah menghadapi masalah lain yaitu kekurangan sumber daya manusia.

Sutradara Film Joko Anwar mengatakan bahwa jumlah produksi film tiap tahunnya tidak seimbang dengan jumlah kru yang ada.

Sehingga mengakibatkan perebutan awak produksi yang berkualitas membutuhkan waktu antri yang bisa dibilang cukup lama.

“Kami berebut untuk memesan jasa kru untuk film produksi sampai satu tahun kedepan” Ujar joko melalui sambungan telepon pada katadata.co.id.

Dia menyebutkan setidaknya ada dua penyebab dunia film Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia.

Yang pertama adalah Pendidikan formal dan informal pada sektor film masih sangat minim sekali. Sekolah film banyak di Jakarta, akan tetapi tidak dapat menggaet potensi pada daerah-daerah.

Dan yang kedua adalah permintaan masyarakat terhadap film Indonesia semakin meningkat. Menurutnya, penonton film nasional pada tahun 2018 sudah mencapai 44 juta orang.

Begitu pula dengan jumlah bioskop yang semakin hari semakin banyak, dari yang awalnya 1.200 layar menjadi 1.700 dalam kurun waktu 3 tahun.

Sumber : filmindonesia.or.id

Jika hal tersebut tak di antisipasi, ia khawatir hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas film nasional. Sebab, dengan tingginya tuntunan penonton bisa jadi produser akan memaksa sutradara merekrut kru seadanya dan memproduksi secara asal-asalan.

Joko juga menjelaskan bahwa pentingnya kesadaran dari semua pihak untuk meningkatkan sumber daya manusia di industri perfilman, baik dari rumah produksi maupun pemerintah.

Contohnya dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dapat menggandeng para pemangku kepentingan untuk membangun sekolah perfilman dan menyelenggarakan kursus-kursus perfilman.

Dia mengaku, bahwa rumah produksi besutannya dengan Tia Hasibuan Uwie Balwas – Logika Fantasi (Lo-Fi) Flicks – telah mencoba untuk melahirkan penulis scenario yang baru di tahun 2016.

“Rumah produksi cukup untuk menyiapkan waktu dan uang selama kurang lebih 5 bulan. Itu bisa menyumbangkan Pendidikan informal untuk kebutuhan kerja yang memang mendesak” ujar Joko.

Kekurangan sumber daya manusia pada industri perfilman juga diakui oleh produser film Laskar Pelangi, yaitu Mira Lesmana.

Menurutnya tren penonton film lokal sudah mulai terasa peningkatannya sejak tahun 2016. Namun sampai saat ini belum ada program pengembangan kru yang mumpuni.

Ia menyebut, profesi dalam dunia perfilman tidak hanya seputar artis, sutradara, dan penulis scenario. Akan tetapi masih banyak pekerjaan lain yang bisa menjanjikan pendapatan tinggi.

Contohnya, asisten sutradara, production designer dan art director, make up artist dan efek spesial, casting director dan talent coordinator, serta location manager.

Selain itu yang tak kalah penting adalah peran dari fotografer di belakang layar, storyboard artist, line producer, production assistant, editor, penata busana, director of photography, sound recordist, sound designer, music director, dan publisis film.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Leave a Comment